Kamis, 17 Januari 2013

Konsep Dasar Post Laparatomi dan Indikasi Kehamilan Ektopik


  1. Konsep Dasar Post Laparatomi dan Indikasi Kehamilan Ektopik

1.      Laparatomi
a.       Pengertian Laparatomi
                  Laparatomi adalah operasi membuka rongga abdomen (Kamus Saku Keperawatan  Brooker Christine, 2001 : 234).
                  Laparatomi adalah operasi dengan pembukaan sebagian perut di area perut mana saja (Dorland, 2000 : 991).
b.      Pengertian Post Laparatomi
Post laparatomi adalah keadaan setelah dilakukan operasi pembukaan rongga abdomen.
c.       Tujuan Laparatomi
                        Tujuan dilakukan tindakan laparatomi pada kehamilan ektopik adalah untuk menghentikan sumber perdarahan dan untuk membantu menegakkan diagnosis.
d.      Komplikasi Laparatomi
komplikasi dari tindakan laparatomi yaitu, seperti perdarahan, syok hipovolemik takikardia, hipotensia, pucat dengan ekstremitas akral dingin, dan peritonitis.
e.       Indikasi laparatomi
Indikasi laparatomi segera dapat dilakukan pada klien dengan peritonitis, syok (hipovolemik) , dan perdarahan gastrointestinal.

2.      Definisi Kehamilan Ektopik
      Kehamilan ektopik (kehamilan diluar kandungan) adalah suatu kehamilan dimana janin berkembang diluar rahim, yaitu di dalam tuba falopii (saluran telur), kanalis servikalis (saluran leher rahim), rongga panggul maupun rongga perut (Mediacastore. 2004).
      Kehamilan ektopik adalah suatu keadaan dimana hasil konsepsi berimplantasi, tumbuh dan berkembang diluar endometrium kavum uteri.
 Bila kehamilan tersebut mengalami proses pengakhiran (abortus) maka disebut dengan kehamilan ektopik terganggu (KET) (Achadiat, 2004 : 100).
            Kehamilan ektopik ialah dimana setelah fertilisasi, implantasi terjadi diluar endometrium kavum uteri. Hampir 90% kehamilan ektopik terjadi di tuba uterine. Kehamilan ektopik dapat mengakibatkan abortus atau ruptur apabila masa kehamilan berkembang melebihi kapasitas ruang implantasi (misalnya : tuba) dan peristiwa ini disebut sebagai kehamilan ektopik terganggu (Prawirohardjo, 2001 :152).
      Berdasarkan ketiga pengertian diatas, penulis membuat kesimpulan bahwa kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan dimana janin tumbuh dan berkembang / implantasi diluar endometrium kavum uteri yang mengakibatkan abortus atau ruptur jika perkembangan melebihi kapasitas ruang implantasinya.

3.      Etiologi Kehamilan Ektopik
      Sebagian besar kehamilan ektopik terjadi pada tuba sehingga setiap gangguan pada tuba yang disebabkan infeksi akan menimbulkan gangguan dalam perjalanan hasil konsepsi menuju rahim. Gambaran penyebab kehamilan ektopik (Mochtar, 1998 : 228), yaitu :
a.       Gangguan pada lumen tuba
1)      Infeksi menimbulkan pelekatan endosalping sehingga menyempitkan lumen.
2)      Hipoplasia tuba sehingga lumennya menyempit.
3)      Operasi plastik pada tuba (rekontruksi) atau melepaskan perlekatan dan tetap menyempitkan tuba.
b.      Gangguan diluar tuba
1)      Terdapat endometriosis tuba sehingga memperbesar kemungkinan implantasi.
2)      Terdapat divertikel pada lumen tuba.
3)      Terdapat perlekatan sekitar tuba sehingga memperkecil lumen tuba.
4)      Kemungkinan migrasi eksternal, sehingga hasil konsepsi mencapai tuba dalam keadaan blastula.
c.       Faktor Uterus
1)      Tumor rahim yang menekan tuba
2)      Uterus hipoplastis
d.      Faktor Ovum
1)      Migrasi Eksterna dari ovarium
2)      Perlekatan membrana granulose
3)      Rapid cell devision
4)      Migrasi internal ovum

4.      Klasifikasi Kehamilan Ektopik
         Klasifikasi kehamilan ektopik (Mochtar, 1998 : 228), yaitu :
a.       Kehamilan Tuba
Dinding tuba merupakan lapisan luar dan kapsularis yang merupakan lapisan dalam dari hasil konsepsi. Karena tuba tidak dan bukan merupakan tempat normal bagi kehamilan, maka sebagian besar kehamilan tuba akan terganggu pada umur 6 – 10 minggu kehamilan. Nasib dari hasil konsepsi bisa:
1)      Mati dan kemudian diresobrsi.
2)      Terjadi abortus tuba (65%), ibu mengalami keguguran dan hasil konsepsi terlepas dari dinding tuba kemudian terjadi perdarahan yang bisa sedikit atau banyak.

      Hasil konsepsi dan perdarahan bisa keluar kearah kavum uteri dan dikeluarkan pervaginam atau keluar kearah kavum abdominal sehingga bertumpuk dibelakang rahim disebut hematoma retrouterina atau disebut juga massa pelvis (pelvic mass).
3)      Terjadi ruptur tuba (35 %)
      Bila robekan kecil maka hasil konsepsi tetap tinggal didalam tuba, sedangkan dari robekan terjadi perdarahan yang banyak. Bila robekan besar, maka hasil konsepsi keluar dan masuk dalam rongga perut. Nasib hasil konsepsi ini bisa :
a)      Mati dan bersama darah berkumpul diretrouterina
b)      Bila janin agak besar dan mati akan menjadi litopedion dalam rongga perut, atau
c)      Janin keluar dari tuba kemungkinan tumbuh terus dalam rongga perut dan terjadi kehamilan abdominal sekunder. Plasenta akan melebar mencari kebutuhan makanan janin pada usus, ligamentum latum, dan organ – organ disekitarnya. Selanjutnya janin dapat tumbuh terus bahkan sampai a terme.
Diantara kehamilan ektopik yang terbanyak terjadi di dalam tuba, khususnya diampula dan isthmus. Kehamilan tuba terdiri dari :
a)      Kehamilan Intramuralis (Interstisial)
            Karena dinding agak tebal, dapat menahan kehamilan sampai 4 bulan atau lebih, kadang kala sampai a terme. Kalau pecah dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan keluarnya janin dalam rongga perut.
b)      Kehamilan Isthmus
            Dinding tuba disini lebih tipis, biasanya pada kehamilan 2 – 3 bulan sudah pecah.


c)      Kehamilan Ampula dan Fibria
            Dapat terjadi abortus dan ruptur pada kehamilan 1 – 2 bulan.

b.      Kehamilan Ovarial
            Kehamilan ini jarang terjadi. Dalam kehamilan ini terjadi perdarahan di ovarium ini disebabkan bukan saja oleh pecahnya kehamilan ovarium, tetapi bisa oleh ruptur kista korpus luteum, torsi, dan endometriosis.

c.       Kehamilan Abdominal
            Menurut cara terjadinya bisa dibagi menjadi primer, yaitu implantasi terjadi sesudah dibuahi, langsung kepada peritoneum atau kavum abdominal ; dan sekunder, yaitu bila embrio yang masih hidup dari tempat primer, misalnya karena abortus tuba atau ruptur tuba, tumbuh lagi di dalam rongga abdomen.
Kehamilan abdominal bisa mencapai a terme dan anak hidup hanya sering menjadi cacat tubuh. Biasanya fetus sudah meninggal sebelum cukup bulan, yang kemudian dapat mengalami degenerasi dan maserasi ; infiltrasi lemak (fatty) ; menjadi lithopedion (membatu) ; atau menjadi fetus papyreceus.

d.      Kehamilan Servikal
            kehamilan servikal ini merupakan kehamilan dimana nidasi terjadi pada kanalis servikalis, sehingga dinding serviks menjadi sangat tipis dan membesar. Hal ini jarang dijumpai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

KOMENTAR ANDA UNTUK LEBIH BAIKI!!!!